“Gabriel Asa Sang Maestro”
Gabriel Asa sang maestro, lahir di Manulea-Malaka pada 31 Desember 1942. Nama Gabriel Asa tidak sepopuler para musisi NTT yang terkenal namun kecintaan akan musik yang ia hidupi dapat menginspirasi musisi-musisi lokal di daerahnya.
Sang maestro bagai mutiara yang memikat banyak hati dalam dunia musik lokal
Atau yang kita kenal dengan music fiol di jamannya saat itu di daerah Tapenpah. Kepiawaian maestro hitam manis ini dalam menggesek dawai biola dan memainkan dawai gitar menumbuhkan benih-benih musisi lokal di desa Tapenpah. Sebut saja Bapak Ois Am’isa adalah salah satu dari sekian orang yang belajar bermain gitar dari sang maestro.
Kecintaannya akan dunia musik pun menggiring dia untuk mengabdikan diri bagi Tuhan dengan menjadi Katekis atau dengan sebutan kul akam pada jamannya (Mengajarkan doa-doa kepada umat katolik di kampungnya). Jiwa maestro yang tertanam dalam dirinya juga menghantarnya memaknai pepatah klasik ini “Qui bene cantat, bis orat = bernyanyi yang baik berdoa dua kali” maka ia membimbing umat lingkungan Oeliurai dalam memuji Keagungan Allah Sang Pencipta lewat koor Gereja. Paduan suara yang dibimbingnya pun pernah meraih juara 2 dalam lomba paduan suara antar lingkungan di Paroki Kiupukan. Prestasi paduan suara asuhan maestro hitam manis ini pun kembali menorehkan prestasi baik dengan tampil sebagai Juara harapan 1 pada lomba paduan suara sedekenat TTU.
Sang maestro juga merupakan seorang pelatih penari bidu. Dengan semua pengabdianya dalam dunia seni. Maestro Gabriel Asa juga dikenal sebagai ahlinya pembuat alat pertanian “Tofa” untuk membantu para petani.
Tidak sebatas pengabdiannya di seputar lingkungan Gereja yang membuat kita semua kagum dan sejenak bernostalgia. Ada yang lebih menarik untuk sejenak kita kenang. Dimana Kaki-kaki akan gemetaran ketika Vokal Grup asuhan Maestro Gabriel Asa tampil sebagai pengganti Tape Rekorder di tenda-tenda acara. Orang-orang Oeliurai dan sekitarnya yang kala itu belum mengenal Tape Rekorder akan menari (Berdansa) dengan sangat bahagia. Istilahnya “Cungkil Matahari” artinya menari dengan gembira sampai puas.
Mutiara terpendam Tapenpah kini telah kembali kepada Sang Pemberi Hidup.
Sang Maestro Tapenpah telah kembali kepada Pemiliknya. Hanya nada-nada kenangan yang akan kita kenang bahwa pernah lahir seorang maestro di tanah ini.
Jumat, 09 Oktober 2020 tertera sebagai akhir pengabdiannya di tanah ini. selamat jalan sang maestro Tapenpah.
Terima kasih untuk alunan nada-nada indah yang pernah menghiasi kampung ini.
Tuhan menyediakan tempat terindahmu di Surga. Amin.
Bintuni-Papua Barat, 11 oktober 2020
Teriring salam & doa
( Metry Naikofi )