Program Penguatan Pemerintahan dan Pembangunan Desa (P3PD) merupakan salah satu Program Pemerintah Pusat yang melibatkan tiga Kementrian yakni Kementrian Dalam Negeri, Kemetrian Desa, dan Kemenko PMK dan Bappenas. Kementrian Dalam Negeri mengurus Komponen 1 yakni peningkatan kapasitas yang berbasis permintaan dan kebutuhan. Kementrian Desa PDTT melaksanakan Program Komponen 2 yakni perbaikan system pendampingan dan peningkatan kapasitas untuk masyarakat dalam rangka memperkuat pembangunan partisipatif. Kemenko PMK dan Bappenas melaksanakan program komponen 3 yakni penguatan system Informasi dan data berbasis teknologi untuk memperbaiki koordinasi, supervisi, motoring dan evaluasi kinerga desa serta mendorong pemakaian data dalam perencanaan yang pengaggarannya di tingkat desa.
Desa Tapenpah merupakan salah satu Desa di Kecamatan Insana Kabupaten TTU yang mendapat sasaran Program P3PD komponen 2. Sebagai implementasi dari Program ini, maka pemerintah Desa Tapenpah menggelar kegiatan pelatihan bagi komponen masyarakat Desa Tapenpah. Kegiatan pelatihan ini berlangsung selama dua hari yakni Jum’at, 22 September s/d Sabtu 23 September 2023. Kegiatan pelatihan ini difasilitasi oleh Pendamping Desa Inklusif. Peserta yang hadir terdiri dari Perangkat Desa, BPD, PKK, Kader Desa Inklusif, Perwakilan Kaum Muda, Perwakilan Kepala Keluarga Perempuan, Lansia, dan Kelompok Difabel. Peserta yang hadir berjumlah 24 orang.
Di hari pertama, Jum’at 22 September 2023, Fasilitator Program P3pD, Bapak Marsel Manek, menghantar para peserta untuk mengenal secara lebih mendalam siapa itu kelompok rentan dan marginal. Dengan mengerti apa dan siapa itu kelompok rentan dan marginal maka output yang diharapkan dari program P3PD Komponen 2 bisa terwujud yakni menjadi desa inklusif. Para peserta kegiatan pelatihan sangat antusias. Masing-masing kelompok berupaya untuk mempertahankan ide dan gagasannya tentang rentan dan marginal. Selain itu hal lain yang juga didiskusikan adalah bagaimana upaya yang dilakuakan agar Desa Tapenpah menuju Desa Inklusif. Pada akhirnya fasilitator mengajak para peserta pelatihan untuk sampai pada kesimpulan bahwa untuk menjadi desa inklusif, kita harus menempuhnya dengan Jalan Budaya, Jalan Pembangunan dan Jalan Demokrasi. Kegiatan pelatihan ditutup dengan Foto dan santap siang bersama.